Selasa, 31 Maret 2009

Kisah Cinta Teladan




Kisah Cinta Teladan

 

Para ulama Salaf memahami standar kufu dalam menikahkan putri mereka adalah agama. Mereka tidak melihat harta dalam menikahkan putra-putrinya tetapi melihat kualitas iman, takwa dan akhlak. Tak heran jika mereka lebih memilih yang miskin namun baik agamanya dari pada yang kaya namun kurang agamanya.

Kisah Said bin Musyyabah dalam menikahkan putrinya adalah kisah keteladan  yang sangat indah penuh hikmah. Beliau memiliki putri yang sangat terkenal kecantikan, kecerdasan, dan kesalehannya. Kabar itu samapi ke telinga Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan putra mahkotanya yaitu Walid bin Abdul Malik di Damaskus. Kahlifah datang ke tempat Said bin Musayyab untuk meminang putinya itu untuk putra mahkotanya. Namun tanpa keraguan sedikitpun Said menolak pinangan itu, meskipun dia harus menghadapi resiko yang tidak ringan. Karena menolak pinangan khlifah dia sampai dicambuk sebanyak seratus kali. Dan dia tetap pada pendiriannya tidak mau menikahkan putrinya dengan putra mahkota khlifah.

Tak lama setelah kejadian itu,dia kembali mengajar di masjid Nabawi. Ia adalah seorang ulama dan mahagru yang sangat perhatian danmenyayangi murid-muridnya. Ia selalu menanyakan keadaan mereka, dan jika ada yag berhalangan hadir ia selalu menanyakan, kenapa. Suatu kali ada seorang muridnya bernama Abdullah bin Abi Wada’ah tidak menghadiri pengajian. Ketika ditanyakan kepada murin yang lain, tidak ada yang tahu sebabnya. Beberapa hari berikutnya, Abdullah bis Abi Wada’ah hadir, Imam Said bin Musyyab langsung bertanya,

“Abdullah, kenapa kemarin tiadak masuk?”

“Maaf Imam, kemarin istri saya meninggal dunia dan saya tidak sempat minta izin dan memberitahukan kabar ini kepada Imam.”

“Apakah kau sudah menikah lagi?”

“Semoga Allah merahmati Imam, siapakah yang sudih menikahkan putrinya denganku. Aku ini miskin tidak memiliki apa-apa kecuali hanya dua atua tiga dirham saja?”

“Akulah yang akan menikahkanmu”

“Benarkah?”

“Ya, benar.aku akan menikahkanmu dengan putriku, jika kau mau.”

Dan jadilah saat itu juga Imam Said bin Musyyab menikahkan putrinya yang terkenal cantiknya itu dengan Abdullah bin Wada’ah, salah seorang muridnya yang miskin, dengan mahar hanya dua dirham.

Begitulah Imam Said bin musyyab labih memilih lelaki yang miskin namun ia tahu persis ketaqwaan dan kedalaman ilmu agamanya. Ia tidak memilih putra raja yang kaya raya dan memiliki kedudukan yang tinggi. Ia sangat percaya bahwa putrinya akan selamat di dunia dan akhirat jika berada dalam bimbingan suami yang bertaqwa Betapa manatpnya hati Imam Said tatkala menikahkan putrinya itu dapat dilihat dari cerita Abdullah bin Wada’ah.

“Setelah di nikahkan itu, aku lalu bangkit. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat karena genbiranya. Aku lalu bergegas pulang ke rumah. Aku berpikir kepada siapa aku akan mencari pinjaman? Aku lalu shalat mahrib. Setelah itu aku kambali ke rumah. Aku nyalakan lentera. Saat itu aku puasa. Aku mengambil makan untuk buka. Tak lain hanyalah roti dan minyak zaitun. Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu.

“Siapa?”

“Said”

aku berpikir pada orang-orang yang bernama Said, kecuali Said bin Musayyab. Sebab selama empat puluh tahun ia tidak pernah terlihat kecuali di dua tempat yaitu di rumahnya dan di Masjid Nabawi. Aku lalu keluar memebuka pintu. Ternyata adalah Said bin Musayyab. Aku mengira ada hal penting dan dia memerlukan bantuan. Kukatakan.

“Wahai Abu Muhammad, jika kau mengirim utusan kepadaku tentu aku akan datang kepadamu.”

“Tidak kamu lebih berhak di datangi,” jawab Imam Said.

“Apa yang kau titahkan, dan ada apa yang bisa saya Bantu?”

“Kau adalah lelaki sendiri tanpa istri. Aku telah menikahkanmu. Aku tidak ingin kau bermalam sendirianmalam ini, Ini aku antarkan istrimu.”

Dan putrid Said bin Musayyab itu ternyata berdiri di belakang Said bin Musayyab. Said lalu memegang tangannya dan mendorong ke pintu. Putrid Said bin Musayyab terlahat sangat malu. Ia hanya berdiri mematung di pintu. Aku cepat-cepat menuju nampan, di mana ada roti dan minyak. Aku letakkan pada bayangan lentera agar tidak terlihat. Aku lalu naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka pun berdatangan. Mereka bertanya,

Ada apa?”

“Aduh bagaimana ini? Siang tadi said bin Musayyab menikahkan aku dengan putrinya. Dan malam ini mendadak dia datang membawa putrinya itu.”

Para tetangga bertanya heran, “Said menikahkan kamu?”

“Ya”

“Dia sekarang di rumahmu?”

Para tetangga lalu mendatangi rumahku. Hal itu di beritahukan kepada ibuku. Ibuku datangdan berkata, “Aku haram melihat wajahmu jika kau sampai menyentuhnya sebelum aku dandani sampai tiga hari.” Aku lalu menenangkan diri selama tiga hari, baru aku menemuinya. Ternyata dia adalah wanita yang paling cantik, paling hafal kitab Allah, paling tahu sunah Rasulullah, dan paling mengerti hak-hak suami. Selama sebulan Said tidak mendatangiku dan aku tidak mendatanginya. Setelah sebulan aku mendatanginya saat itu dia ada di tengah-tengah halaqah pengajiannya. Aku ucapkan salam padanya. Dia menjawab salamku. Ia tidak mengajakku bicara sampai orang-orang pergi semua.

Ia bertanya, “Bagaimana keadaannya?”

Aku menjawab, “Baik, Abu Muhammad. Dia manusia yang sangat di cintai teman dan dibenci musuh.”

‘Jika aku ragu padanya, kau boleh angkat tongkat.”

Aku lalu kembali ke rumahku dan Said memberiku bekal dua puluh rubu dirham.”

Betapa besarnya rasa percaya Imam Tabi’in agung itu. Ia bahkan tidak bertanya secara mendetil kedaan putrinya. Sebab ia sangat percaya putrinya akan baik dan aman di bawah lindungan lelaki yang bertaqwa, takut kepada Allah, tahu hak dan kedudukannya.

 

Pesan Penulis :

Jadikan kisah diatas sebagai pedoman kita dalam mencari seorang pendamping hidup, carilah pendamping hidup yang bisa membimbing kita ke jalan yang di Ridhohi Allah SWT. Yang mempunyai ketaqwaan dan kedalaman Ilmu agama meskipun orangnya miskin, jangan jadikan materi sebagai pedoman dalam mencapai kebahagiaan hidup. Jadikan Ketaqwaan kita untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

 

Firman Allah :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

 

Sabda Nabi :

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

 

Pernikahan adalah perjanjian selama-lamanya, hingga akhir hayat. Menikah bukan untuk waktu sehari atau dua hari, untuk itu setiap orang berhak untuk memilih pendampingnya,

Bagi wanita nikahilah laki-laki yang baik, jangan nikahi laki-laki yang keji, karena  laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji. Begitu juga untuk laki-laki, nikahilah wanita yang baik, jangan nikahi wanita yang keji karena wanita yang keji hanya untuk laki-laki yang keji.

 

Firman Allah :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan berkomentar